Make your own free website on Tripod.com
seputar taman nasional

Kunjungan Gubernur Kalimantan Barat ke Landasan Pacu Sei Awan di Taman Nasional Gunung Palung

Hari Karnis Tanggal 24 Juni 2004, Gubernur Kalirnantan Barat H. Drs. Usman Jafar beserta Staf Pemprov Kalimantan Barat berkunjung ke Kabupaten Ketapang dalam rangka Sosialisasi Pemilihan Presiden (Pilpres) di Kabupaten Ketapang. Setelah selesai Acara Formal tersebut, pada jam 14.00 WIB Gubemur menyempatkan diri untuk mengunjungi Landasan Pacu milik Balai TN Gtunung Palung yang berlokasi di Sei Awan Kiri, Kec. Muara Pawan. Pada kesempatan tersebut Gubemur didampingi oleh Muspida Kabupaten Ketapang yang terdiri dari Bupati Ketapang H. Morkes Efendi , Kapolres Ketapang, Kajari Ketapang, Ketua PN Ketapang, serta Kepala Dinas di lingkup Kabupaten Ketapang.

Gubernur Usman Jafar mendapat kesempatan untuk melihat secara langsung Pesawat Microlight Trike (Buatan Australia) dan Para Motor yang nantinya dipersiapkan untuk sarana Patroli Udara pada Kawasan Tarnan Nasional Gunung Palung. Orang Nomor Satu di Kalimantan Barat ini terlihat kagum dengan fasilitas yang dimilliki Balai TN Gunung Palung, karena selain

sebagai sarana Patroli Udara pertama yang ada di Kalimantan Barat bakan di Indonesia, juga para pilot yang merupakan pegawai TNGP ini dilatih oleh instruktur dari Pusat Latihan Aerosport Lido Sukaburni. Acara tersebut diisi juga dengan penjelasan Alur Patroli Udara pada kawasan TN Gunung Palung oleh Kepala Balai TN Gunung Palung B. Prabani Setiohindrianto yang disimak dengan antusias Gubernur beserta rombongan.

Secara lugas Kepala Balai menjelaskan Alur Patroli Udara, dimana Pesawat ringan yang terbang di atas kawasan, setelah menemukan titik-titik rawan Illegal Loging atau Hot Spot mencatat koordinat TKP, selanjutnya patroli Udara melaporkan temuan tersebut kepada pasukan dengan menggunakan Air Band. Pasukan BaIai TamanNasional Gunung Palung segera menindaklanjuti dengan melakukan Opasi Pengamanan TNGP. Acara kunjungan ini ditutup dengan Ramah Tamah dan Makan Bersama dengan seluruh staf Balai TN Gunung Palung.

Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam Institut Pertanian Bogor ( LAWALATA IPB) ke TN Gunung Palung

Pada tanggal 11 Juli 2003, sebanyak 18 orang mahasiswa yang tergabung dalam kelompok mahasiswa pecinta (MAPALA IPB) tiba di kota Ketapang. Maksud dari kunjungan ini adalah untuk melakukan kegiatan pengamatan lapangan sebagai syarat bagi anggota baru untuk dapat dilantik menjadi anggota tetap. Kegiatan ini bertajuk "Pengamatan Lingkungan Sarang Orangutan di Taman Nasional Gunung Palung".

Kegiatan lapangan dilakukan di Stasiun Riset Cabang Panti selama kurang lebih 2 (dua) minggu. Tim terbagi dalam dua kelompok dengan masing-masing didampingi oleh 2 orang pemandu dari TN Gunung Palung. Kelompok pertama menyusuri daerah hutan rawa dan dataran rendah, sedangkan kelompok kedua menyusuri hutan pegunungan. Selain mengamati dan mengumpulkan informasi tentang lingkungan sarang Orangutan, mahasiswa ini juga mengamati berbagai macam tipe ekosistem hutan yang terdapat di dalam Taman nasional Gunung Palung.

Setelah dua minggu di lapangan, kelompok mahasiswa ini kemudian menyusun laporan kegiatan yang selanjutnya dipresentasikan di hadapan Kepala Balai TN Gunung Palung beserta Staff.


Presentasi Hasil Kegiatan

Patroli Polisi Kehutanan Taman Nasional Gunung Palung Berhasil Menangkap Pelaku Illegal Logging

Dengan bemodalkan Surat Perintah Tugas Penyidikan dari kepalaBalai TNGP Nomor PT SIDIK 09/IV-T.25/PPNS/2004 Tanggal 3 Juni 2004, maka 4 (Empat) orang PPNS yang dimiliki Balai TNGP dengan segera mengadakan penyidikan terhadap peristiwa tindak pidana di bidang kehutanan tersebut yang dilakukan oleh tersangka Sm bmAbs dkk. Berdasarkan bukti perbuatan dan bukti alat yang didapat cukup untuk menuntut tersangka, maka pada tanggal 3 Juni 2004 Kepala Balai TNGP menerbitkan Surat Perintah Dimulainya Penyidikan Nomor S. 7a /IV- T.25 /PPNS/ 2004 yang ditujukan kepada Kepala Kejaksaan Negeri Ketapang.Penyidik PNS yang diturunkan langsung untuk menangani kasus ini adalah M. Dedy Hardinianto, SH dan Parsaoran Samosir yang dibantu oleh 2 (Dua) orang PPNS dan Lima orang Ajun Polhut Madya dengan maksud untuk mempercepat proses penyidikan dan segera mendapatkan P-21 atau Berkas dinyatakan lengkap oleh pihak Kejaksaan. Hingga minggu ke-tiga proses penyidikan, kemajuan kasus ini telah mengalami Perpanjangan Penahanan /Masa Penahanan dari Penuntut Umum yang berwenang selama 40 baru, kecuali kersangka Rnt bin Dg yang hanya diperpanjang selama 10 hari dengan pertimbangan kemungkinan resiko tersangka masih di bawah umur. Berdasarkan keterangan Penyidik, seluruh rangkaian proses Penyidikan ini bila dimungkinkan akan diarahkan untuk menjerat Pemilik Modal yang mendanai para pekerja/penarik kayu ini, karena merekalah yang seharusnya lebih bertanggungjawab terhadap kerusakan hutan dan kawasan lindung selama ini, dan kenyatannnya mereka rnasih bebas berkeliaran tanpa ada aturan hukum yang mampu menjeratnya.

Terhadap pelaku/tersangka yang notabene masyarakat kecil, dengan tertangkap dan ditahannya mereka untuk beberapa waktu serta melalui proses sidang pengadilan, diharapkan dapat menimbulkan efek jera kepada para tersangka, dan kepada para pekerja yang masih beraktivitas di dalarn kawasan Taman Nasional Gunung Palung maupun anggota masyarakat yang masih menumpukan hidupnya dengan bekerja di dalam kawasan hal ini akan menjadikan pelajaran bahwa setiap pelanggaran terhadap hukun/Undang-undang yang berlaku akan mengamdung konsekuensi hukum pula.

Proses Penyidikan Kasus Penebangan Liar di TNGP Operasi Fungsional yang digelar Polhut BalaiTarnan Nasinoal Gunung Palung pada tanggal 2 sampai dengan 6 Juni 2004 dengan Surat Perintah Tugas dari Kepala Balai TNGP Nomor422/1V-T.25/Kam/2OO4, telah berhasil menangkap 4 (Empat) orang tersangka yang sedang mengangkut/menarik kayu olahan dari dalam kawasan Tarnan Nasional Gunung Palung dengan menggunakan alat Kuda-kuda. Keempat orang tersangka masing-masing berinisial Smn bin Abs, Sai bin Jmd, Sd bin Amn danRnt bin Dg.

Guna mempertanggungjawabkan perbuatan para perusak hutan ini, proses Penyidikan disertai penahanan terhadap tersangka telah dijalankan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil Balai Taman Nasional Gunung Palung. Adapun Tersangka dalam perkara ini dijerat dengan beberapa Pasal dari Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alarn Hayati dan Ekosistemnya dan Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kehutanan, antara lain tindak pidana di bidanig kehutanan berupa megambil, menebang, memiliki, merusak, memusnahkan, memelihara, mengngkut dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya baik dalam keadaan hidup atau mati.

Barang bukti yang didapat dari para tersangka yang tertangkap tangan sedang bekerja menarik kayu dii dalam kawasan ini adalah 1 (satui) buah Parang, 1 (satu) buah Kampak, 1 (satu) buah Jerigen, 1 (satu) Utas Tali Penark Kuda-kuda, 1 () bundel Bon Belanja Logistik, 113 (Seratus Tiga Belas) potong Kayu Olahan jenis Meranti, Punak, Mentibukdan Jelutung.

Satuan Patroli Udara Taman Nasional Gunung Palung

Maraknya illegal logging dan ancaman kerusakan terhadap kawasan taman nasional gunung palung, telah membuka ide Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung untuk mengembangkan sistem patroli udara. Dengan adanya sistem patroli udara ini diharapkan kegiatan pemantauan kawasan taman nasional gunung palung dapat dilakukan secara efektif dan efesien.

Adapun sarana patroli udara yang saat ini telah dimiliki oleh Taman Nasional Gunung Palung adalah 2 buah Para Motor dan sebuah Pesawat Microlight Trike (buatan Australia), landasan pacu sei awan. Rencana kedepan untuk menambah kekuatan satuan patroli udara ini, BTNGP berencana menambah 1 pesawat jenis Vick

Sedangkan untuk mendukung sumber daya manusia dalam pengoperasian sarana patroli udara ini, Balai Taman Nasional Gunung Palung melatih 4 orang staffnya untuk menjadi pilot. Hampir 2 bulan para calon pilot Taman Nasional Gunung Palung berlatih tentang bagaimana teknik dan cara pengoperasian Pesawat Trike di Tembelina.